Menikmati Gurih dan Segarnya Salad Rumput Laut Khas Bumi Kartini – Kabupaten Jepara selama ini mungkin lebih masyhur di telinga wisatawan berkat kemahiran para pengrajin ukirnya yang mendunia atau pesona gugusan kepulauan Karimunjawa yang menawan.
Namun, di balik bayang-bayang kayu jati dan pasir putih, tersimpan sebuah khazanah kuliner yang unik, ekstrem bagi sebagian orang, namun sangat dicintai oleh masyarakat lokal. Kuliner itu adalah Pecel Latoh.
Baca Juga: Tumis Tahu Sutra Oriental: Kelezatan Tekstur Lembut dengan Kuah Kental yang Gurih Nan Memikat
Jika biasanya pecel identik dengan bayam, tauge, dan kacang panjang yang disiram sambal kacang, maka Jepara menawarkan sebuah anomali lezat yang menyegarkan.
Pecel Latoh bukanlah sekadar hidangan sayur biasa; ia adalah representasi dari harmoni antara hasil laut dan kearifan lokal dalam mengolah bahan alam menjadi santapan yang menggugah selera.
Apa Itu Latoh? Mengenal Sang “Anggur Laut” dari Perairan Dangkal
Sebelum masuk ke dalam resep dan keunikan rasanya, kita perlu mengenal bahan utamanya: Latoh. Secara ilmiah, latoh termasuk dalam jenis alga hijau atau rumput laut dari genus Caulerpa.
Di luar negeri, tanaman ini sering dijuluki sebagai sea grapes atau anggur laut karena bentuknya yang menyerupai untaian buah anggur dalam ukuran mikroskopis.
Di perairan Jepara, khususnya di daerah pesisir seperti Desa Mlonggo, Bondo, hingga perairan laut utara lainnya, latoh tumbuh subur di sela-sela karang dan pasir dasar
laut yang dangkal. Bentuknya berupa butiran-butiran kecil berwarna hijau transparan yang menempel pada batang panjang. Keunikan utama dari latoh adalah sensasi “meletus” (pop) saat digigit, mengeluarkan cairan asin segar yang membawa aroma laut yang kuat namun tidak amis.
Anatomi Rasa Pecel Latoh Jepara
Pecel Latoh adalah bukti bahwa kesederhanaan bahan bisa menghasilkan kompleksitas rasa yang luar biasa. Berbeda dengan pecel Madiun atau
Kediri yang menggunakan bumbu kacang kental, Pecel Latoh di Jepara justru lebih sering menggunakan sambal kelapa atau yang akrab disebut dengan bumbu urap.
1. Sensasi Tekstur yang Unik
Hal pertama yang akan Anda rasakan saat menyantap Pecel Latoh adalah tekstur crunchy atau renyah. Butiran latoh
yang segar memberikan sensasi yang tidak ditemukan pada sayuran darat manapun. Ada perpaduan antara kekenyalan batang latoh dan kelembutan butirannya.
2. Ledakan Rasa Asin Alami
Karena berasal dari laut, latoh memiliki rasa asin bawaan yang sangat organik. Rasa asin ini tidak terasa tajam seperti garam dapur, melainkan lebih
lembut dan menyegarkan. Inilah alasan mengapa dalam proses pembuatannya, penggunaan garam pada bumbu harus sangat hati-hati agar tidak terjadi overpowering.
3. Keseimbangan Bumbu Kelapa dan Cabai
Bumbu yang digunakan biasanya terdiri dari parutan kelapa muda yang dibumbui dengan kencur, jeruk purut, cabai rawit, dan sedikit terasi bakar. Perpaduan aroma kencur yang harum dengan kesegaran daun jeruk purut menciptakan lapisan rasa yang menyeimbangkan karakter laut dari si latoh.
Rahasia Pengolahan: Dari Dasar Laut ke Meja Makan
Mengolah latoh bukanlah perkara mudah bagi mereka yang belum terbiasa. Salah sedikit, latoh bisa menjadi layu, berair, atau bahkan hancur sebelum sempat dinikmati.
Berikut adalah tahapan tradisional masyarakat Jepara dalam menyiapkan Pecel Latoh yang sempurna.
Pemilihan Latoh Segar
Latoh terbaik adalah yang baru saja dipetik dari laut pada pagi hari. Ciri latoh yang berkualitas tinggi adalah warnanya yang hijau cerah (bukan kecokelatan) dan butirannya yang padat berisi. Jika disentuh, ia terasa kenyal dan tidak lembek.
Proses Pencucian yang Teliti
Karena tumbuh di dasar laut, latoh seringkali membawa butiran pasir halus atau patahan karang kecil. Proses pembersihan harus dilakukan dengan merendamnya dalam air tawar berkali-kali.
Namun, ada trik khusus: latoh hanya boleh dicuci sesaat sebelum disajikan. Jika latoh dicuci terlalu lama dan dibiarkan terendam air tawar, ia akan “mencair” atau layu karena perbedaan tekanan osmosis.
Racikan Bumbu Tanpa Proses Masak (Raw Food)
Keunikan lain dari Pecel Latoh adalah ia termasuk dalam kategori raw food atau makanan mentah.
Latoh tidak perlu direbus atau dikukus. Hal ini bertujuan untuk mempertahankan tekstur renyahnya dan kandungan nutrisinya agar tidak hilang. Bumbu kelapanya pun biasanya disajikan mentah agar aromanya tetap tajam dan segar.
Kandungan Nutrisi: Superfood dari Pesisir Jawa
Selain rasanya yang bikin nagih, Pecel Latoh adalah bom nutrisi yang sangat baik bagi tubuh.
Masyarakat pesisir Jepara secara turun-temurun meyakini bahwa mengonsumsi latoh dapat meningkatkan stamina dan menjaga kesehatan kulit. Secara ilmiah, hal ini memang dapat dibuktikan.
Kaya Akan Yodium: Sebagai produk laut, latoh mengandung yodium tinggi yang sangat penting untuk fungsi kelenjar tiroid dan metabolisme tubuh.
Antioksidan Tinggi: Warna hijau cerahnya menandakan kandungan klorofil dan antioksidan yang mampu melawan radikal bebas.
Serat Alami: Membantu melancarkan pencernaan tanpa memberikan beban kalori yang besar.
Vitamin dan Mineral: Mengandung Vitamin A, C, serta kalsium dan magnesium yang baik untuk kepadatan tulang.
Bagi Anda yang sedang menjalankan program diet atau pola hidup sehat, Pecel Latoh adalah alternatif salad yang jauh lebih eksotis dan rendah lemak dibandingkan salad modern berbasis mayones.
Filosofi di Balik Sepiring Pecel Latoh
Bagi warga Jepara, Pecel Latoh bukan sekadar pengganjal perut. Ia adalah simbol adaptasi manusia dengan alam. Laut utara Jawa yang menyediakan sumber daya melimpah memaksa masyarakat untuk berinovasi.
Di masa lalu, ketika musim paceklik atau saat nelayan tidak bisa melaut jauh karena cuaca buruk, latoh yang ada di pinggiran pantai menjadi penyelamat pangan.
Makan Pecel Latoh juga seringkali dilakukan secara komunal. Di warung-warung pinggir jalan atau di bawah pohon peneduh di tepi pantai, orang-orang berkumpul menikmati sepiring pecel dengan alas daun pisang (pincuk).
Di sinilah interaksi sosial terjalin, membuktikan bahwa kuliner adalah perekat komunikasi antar warga.
Menjelajahi Destinasi Pecel Latoh di Jepara
Jika Anda berkunjung ke Jepara, jangan berharap menemukan hidangan ini di restoran mewah berbintang.
Pecel Latoh adalah “ratu” di pasar-pasar tradisional dan warung tenda pinggir pantai. Berikut adalah beberapa titik lokasi di mana Anda bisa mencicipi keaslian rasanya:
Kawasan Pantai Kartini: Di sini banyak pedagang yang menjajakan Pecel Latoh dalam bentuk pincukan. Menikmati renyahnya rumput laut sambil memandang laut lepas adalah pengalaman yang tiada tara.
Pasar Sore Karangrand: Pasar ini dikenal sebagai pusat jajanan tradisional. Di sini, Anda bisa melihat ibu-ibu penjual yang dengan terampil mencampur latoh dengan bumbu kelapa secara langsung di depan mata Anda.
Sepanjang Jalur Pesisir Mlonggo: Jika Anda berkendara menuju arah utara (Benteng Portugis), Anda akan menemui banyak warung kecil yang menyajikan menu ini sebagai pendamping nasi hangat dan ikan bakar.
Tips Menikmati Pecel Latoh Agar Lebih Berkesan
Untuk mendapatkan pengalaman maksimal saat mencoba kuliner ini untuk pertama kali, ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan:
Padukan dengan Nasi Hangat: Rasa asin pedas dari Pecel Latoh sangat pas jika disantap dengan nasi putih yang masih mengepul.
Lauk Pendamping: Ikan asin goreng atau bakwan jagung adalah pasangan serasi untuk menambah variasi tekstur.
Segera Santap: Jangan pernah membungkus Pecel Latoh untuk dimakan beberapa jam kemudian. Latoh akan mengeluarkan banyak air dan kehilangan tekstur renyahnya. Makanan ini harus habis dalam waktu maksimal 30 menit setelah dicampur bumbu.
Minum Es Kelapa Muda: Untuk menetralisir rasa pedas dan sisa rasa laut di lidah, es kelapa muda adalah penutup yang sempurna.
Masa Depan Pecel Latoh: Tantangan dan Pelestarian
Meskipun saat ini masih mudah ditemukan, keberadaan latoh sangat bergantung pada kesehatan ekosistem laut Jepara.
Polusi plastik dan reklamasi pantai menjadi ancaman nyata bagi habitat alami rumput laut ini. Jika laut tercemar, latoh tidak akan bisa tumbuh dengan kualitas yang baik, atau bahkan bisa hilang sama sekali.
Upaya pelestarian melalui budidaya rumput laut oleh kelompok nelayan lokal mulai dikembangkan untuk memastikan pasokan latoh tetap terjaga tanpa harus merusak ekosistem asli di karang-karang laut.
Sebagai wisatawan atau penikmat kuliner, mendukung pedagang lokal adalah langkah kecil untuk memastikan warisan rasa ini tetap ada bagi generasi mendatang.
Menghadirkan Resep Pecel Latoh di Dapur Anda
Bagi Anda yang berada jauh dari Jepara namun ingin merasakan sensasi renyahnya anggur laut ini,
Anda bisa mencoba membuatnya sendiri jika berhasil mendapatkan latoh segar (biasanya tersedia di pasar ikan besar atau toko bahan makanan laut khusus).
Bahan-bahan Utama:
300 gram latoh segar (cuci bersih dengan air mengalir sesaat sebelum diolah).
150 gram kelapa parut (gunakan kelapa yang agak muda).
Bumbu Halus:
3 siung bawang putih.
5 buah cabai rawit (sesuaikan tingkat kepedasan).
2 ruas kencur (ini adalah kunci aroma).
3 lembar daun jeruk purut, buang tulang daunnya lalu iris halus.
Setengah sendok teh terasi bakar.
Garam dan gula pasir secukupnya (ingat, latoh sudah membawa rasa asin).
Cara Membuat:
Ulek semua bumbu halus hingga benar-benar lembut.
Campurkan bumbu halus dengan parutan kelapa. Aduk rata hingga bumbu meresap ke dalam kelapa. Anda bisa mengukus bumbu kelapa ini sebentar jika ingin lebih tahan lama, namun versi Jepara asli biasanya menggunakan kelapa mentah.
Letakkan latoh yang sudah ditiriskan di atas piring.
Taburkan bumbu kelapa di atasnya, atau campur secara perlahan agar butiran latoh tidak pecah.
Sajikan segera dengan nasi putih.
Kesimpulan: Sebuah Perjalanan Rasa yang Tak Terlupakan
Pecel Latoh Jepara adalah bukti nyata bahwa kekayaan kuliner Indonesia tidak ada habisnya. Dari bahan yang mungkin dianggap sederhana oleh sebagian orang, tercipta sebuah mahakarya rasa yang memadukan kesegaran, kesehatan, dan tradisi.
Teksturnya yang renyah dan sensasi meletusnya butiran rumput laut di dalam mulut memberikan pengalaman makan yang tidak hanya memuaskan perut, tapi juga menghibur indra perasa.